

Followers
Monday, 21 May 2012
Wednesday, 9 May 2012
TUAN GURU DR HARUN DIN SANGAT MENYINTAI RASULULLAH
![]() |
Tuan Guru Dato Dr Harun Din |
Abu Salamah, “Telah berkata Abu Qatadah, Rasulullah s.a.w. bersabda
yang bermaksud, sesiapa yang telah melihat daku dalam mimpinya, maka
sesungguhnya dia telah melihat yang benar (al-Haqq). Hadis riwayat al-Bukhari
dan Muslim.
![]() |
Doa yang dianjurkan Untuk bermimpi berjumpa Rasulullah oleh Tuan Guru Dato Harun Din |
Anjuran dalam menyintai Rasulullah perlulah menyintai Ahlil Bait
baginda
Mencintai keluarga dan sahabat Nabi adalah mengikuti teladan
Rasulullah SAW yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mencintai Nabi
SAW.
Tuntunan dan teladan ini juga diberikan oleh keluarga dan sahabat
Rasul sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam, antara satu
dengan lainnya saling menghargai dan menghormati. Hal ini dibuktikan dari
ungkapan-ungkapan mereka:
1. Dari Aisyah RA, Abu Bakar berkata, “Sungguh kerabat Rasulullah
SAW lebih aku cintai daripada kerabatku sendiri.” (HR. al-Bukhari)
2. Dari Ibnu Umar RA dari Abi Bakar RA, beliau berkata,
“Perhatikanlah Nabi Muhammad SAW pada ahlul-baitnya.” (HR al-Bukhari).
3. Dari Wahab al-Suwa’i, ia berkata, “Sayyidina Ali pernah
berkhutbah kepada kami. Beliau bertanya , ‘Siapa orang yang paling mulia
setelah Nabi Muhammad SAW?’ Aku menjawab, ‘Engkau wahai Amirul Mukminin.’
Sayyidina Ali berkomentar, ‘Tidak, hamba yang paling mulia setelah nabi-Nya
adalah Abu Bakar, kemudian Umar.’” (As-Syafi Juz II hal 428).
4. Ketika sahabat Umar dimandikan dan dikafani Sayyidina Ali masuk,
lalu berkata, “Tidak ada di atas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk
bertemu Allah SWT dengan membawa buku catatan selain dari yang terbentang di
tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina Umar). ” (Ma’ani al-Akhbar,
hal 117)
5. Dari 33 putra Sayyidina Ali tiga di antaranya diberi nama Abu
Bakar, Umar, dan Utsman. Dari 14 putra Sayyidina Hasan dua dua di antaranya
diberi nama Abu Bakar dan Umar, dan di antara 9 putra Sayyidina Husain dua di
antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar. Pemberian nama ini tentu soja dipilih
dari nama orang-orang yang metjadi idolanya, dan tidak mungkin diambil dari
nama musuhnya. (Al-Hujaj al-Qathiyyah, hal 195).
6. Bagi Ahlussunnah Sayyidina Ali adalah seorang imam yang mulia
dan harus dijadikan panutan. Sayyidina Ali adalah seorang pemberani dan
sekali-kali bukanlah seorang pengecut Sebagai pemimpin pasukan, di antara
sekian banyak peperanngan yang dilakukan pada zaman Rasul SAW, beliau selalu
menjadi pahlawan yang tak terkalahkan. Karena itu tidak mungkin beliau bersikap
penakut dan pura-pura atau taqiyah apalagi mengajarkannya.
lnilah beberapa alasan yang melandasi keharusan mencintai keluarga
dan sahabat Nabi SAW. Sudah tentu kecintaan dan penghormatan yang diberikan
adalah secara berimbang. Tetap berpedoman pada prinsip tawassuth, tawazun dan
i’tidal, jauh dari fanatisme buta.
KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nuris, penulis kitab Al-Hujaj al-Qatiyyah fi Shihhatil Mu’taqidat wal ‘Amaliyyat an-Nahdliyyah, Ketua PCNU Jember
Pengasuh Pondok Pesantren Nuris, penulis kitab Al-Hujaj al-Qatiyyah fi Shihhatil Mu’taqidat wal ‘Amaliyyat an-Nahdliyyah, Ketua PCNU Jember
AKHLAK SEORANG GURU MULIA PENYATU HATI UMMAH AL ALAMAH HABIB UMAR BIN HAFIZ
Ini adalah pengalaman saya (Habib Ahmad bin Muhammad Alkaff) yg tak
terlupakan tentang Alhabib umar bin hafidz, waktu itu pertengahan april 1994
musim dingin ditarim hadramaut mulai menyapa kami yg memang kami belum terbiasa
dgn dinginnya cuaca tarim ketika musim dingin . Alhabib umar pun telah
menyiapkan untuk kami para santrinya dari indonesia yg waktu itu sangatlah
manja sebuah selimut tebal yg mahal . masing masing dari kami mendapatkan satu
selimut.
Kisah pun bermula
Seperti biasa selepas asar kami dan Alhabib umar menuju kota tarim untuk menghadiri rauhah dan maulid dikota tsb. selepas acara kami pun kembali kekediaman Alhabib umar dikota Aidid. biasanya kami pulang larut malam. dan karena pada waktu itu Alhabib umar hanya memiliki 1 mobil maka kami pun selalu berebutan untuk menaiki mobil tsb. terkadang mobil nisan patrol tsb dimuat oleh 20 orang lebih sehingga penuh didalam dan diatas mobil. kami berebut karena memang jika kami tdk dapat tempat dimobil tsb terpaksa kami akan pulang dgn berjalan kaki yg berjarak 5 kilo kurang lebih.
Saya dan dua teman saya pada waktu itu kurang beruntung . Kami bertiga berjalan kaki untuk pulang kerumah Alhabib umar . sesampainya kami ditempat habib umar kami mendapati teman2 kami yg lain telah mendapatkan selimut yg tebal yg baru saja dibagikan oleh habib umar. Kami pun bergegas menemui habib umar . tapi lagi2 kami kurang beruntung karena selimutnya telah habis. habib umar mengatakan bahwa toko penjual selimutnya kehabisan stok dan berjanji akan memenuhi kekurangannya besok pagi . Kami pun pamit kepada beliau untuk tidur. tp sebelum kami pergi habib umar menyuruh kami untuk menunggu . Kami pun menunggu habib umar yg masuk kedalam rumahnya. Beberapa saat kemudian habib umar pun keluar dgn membawa beberapa selimut tipis dan lusuh dan membagikannya kepada kami bertiga . Kami pun menerima selimut itu tanpa pikir panjang lalu kami pun pulang menuju asrama yg berada tepat dibelakang rumah habib umar . kami pun membagi bagikan selimut tipis dan lusuh pemberian habib umar yg berjumlah 2 selimut besar dan 3 selimut kecil untuk kami bertiga .
baru saja kami meluruskan badan untuk tidur terdengar tangisan bayi yg tak henti hentinya yg kami yakin itu adalah tangisan anak Al habib umar yg masih bayi pada waktu itu. Kami pun sempat bertanya tanya dalam hati kenapa bayi itu menangis sepanjang malam .
Sambil tetap berusaha untuk memejamkan mata. menjelang subuh suara
tangisan bayi pun berhenti . Mungkin karena kelelahan menangis sepanjang malam.
Kami pun bergegas menuju ke masjid aidid yg terletak persis didepan rumah habib
umar sambil membawa kitab nahwu yg akan kami pelajari setelah shalat subuh
dibawah bimbingan langsung habib umar. setelah selesai belajar nahwu kami pun
pulang keasrama kami . dipertengahan jalan kami bertemu dgn habib salim anak
dari Alhabib umar bin hafidz yg waktu itu masih berusia 6 thn kami pun menyapa
dan bertanya .. wahai salim mengapa adik bayimu menangis tak henti hentinya
tadi malam? apakah dia sakit? habib salim pun menjawab tidak , adikku tidak
sakit. lalu apa yg membuatnya menangis ? Dengan keluguannya salim pun menjawab
. Mungkin karena kedinginan , karena semalam kami sekeluarga tidur tanpa
selimut.
Bagai tersambar petir kami terkejut mendengar ucapan polos tsb kami pun berlari menuju asrama untuk mengambil selimut lusuh yg ternyata milik keluarga habib umar yg beliau berikan kepada kami dan beliau sekeluarga rela tidur tanpa selimut di dinginnya malam kota tarim demi anak2 muridnya . kami kembalikan selimut tsb kepada habib umar sambil membendung air mata dan tanpa tahu harus berkata apa . dengan senyum dan seolah2 tak terjadi apa apa habib umar menerima selimut dari kami dan menggantikan selimut tsb dgn yg baru, yg baru saja dikirim oleh pemilik toko.. Kami pun kembali keasrama tanpa dapat membendung lagi air mata kami yang melihat kemuliaan yg beliau berikan kepada kami. Sambil berkata didalam hati . Ya Allah ternyata diabad ini masih ada org yg berhati begitu mulia seperti beliau. terimakasih ya ALLAH yg telah mempertemukan aku dgn manusia mulia dikehidupanku ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)